Mentoring

saya dan kawan saya, Bai dan Fajar, baru saja selesai menghadiri mentoring mingguan. Banyak rasanya yang dipelajari jika dihitung sejak tahun pertama saya kuliah di Bandung; bahkan lebih banyak lagi jika menghitung tahun-tahun sebelumnya semenjak saya mulai bisa mengerti dan sadar akan diri sendiri.

saya malu sebetulnya dengan usia saya yang makin bertambah, tanggung jawab saya yang makin meluas, dan pengetahuan saya yang diperbanyak, saya seringkali berhenti pada mengetahui, namun tidak menjalankan. saya mudah sekali tergoda, tertarik dengan beragam hal yang sebetulnya menjauhkan saya dari apa yang seharusnya saya tuju.

seminggu yang lalu pun saya sempat berbicara dengan dosen yang ingin sekali saya teladani. ia pun seorang ketua angkatan, dewan perwakilan anggota (semacam badan pengawas), menjalani osjur. selain itu pula, dia telah bekerja dan menikah pada saat kuliah. sebetulnya, sepertinya kecil kemungkinannya saya akan menikah dalam waktu dekat. namun saya bilang pada beliau, andai pun saya tidak bisa setidaknya saya ingin menjadi seorang laki-laki yang baik; yang bisa diandalkan. dan saya perlu bimbingan untuk itu. namun, beliau bilang ia masih sibuk dan belum percaya diri untuk memegang mentoring bagi mahasiswa.

saya pun sebetulnya cukup menyayangkan satu orang yang sempat sebelumnya saya kagumi. tentu saja saya berharap banyak untuk kebaikan dia. namun entah rasanya belakangan ini kita sedang menuju arah yang cukup berbeda. bukan berarti dalam artian buruk juga sebetulnya. yang saya tahu, andaipun berpisah jika kita menuju arah yang sama, cepat atau lambat pun kita akan bertemu kembali. namun jika arah yang dituju pun berbeda, meskipun pernah kita bertemu pada akhirnya akan berpisah juga. dan ya, saya bisa bicara apa lagi. saya tak punya hak apa-apa. saya hanya bisa berharap; dan itu pun makin ke sini rasanya makin luntur.

saya pun banyak memikirkan keluarga dan terutama kedua adik saya. saya sempat tersesat dalam pergaulan yang entah mengapa dipandang menarik padahal jujur saya akan malu jika orang tua saya tahu. saya tidak mau adik saya mesti melewati itu. saya tidak ingin adik saya mesti belajar akan hidup dengan cara susah atau melalui jalur yang kotor. namun, saya sendiri pun tak bisa membimbing adik saya. ah, tak perlu jauh-jauh bicara orang lain. membimbing diri saya sendiri pun saya masih saja kesulitan.

saya menulis ini sebetulnya karena pada mentoring yang saya tulis pada awal tulisan ini mulai masuk pada babak untuk menjalankan. tak hanya belajar untuk diri sendiri, namun belajar juga bagaimana membawa ini untuk orang lain. saya harap saya bisa menjalankan minimal apa yang saya pelajari dalam keseharian saya. saya harap saya bisa membagikan apa yang saya tahu seminimalnya bagi mereka yang dekat dengan saya atau bagi mereka yang saya peduli terhadapnya.

pada akhir mentoring, pemateri menyampaikan percakapan pendek yang dikutip dari Al Quran.

man anshori ila Allah?

nahnu anshorullah

InsyaAllah.

Iklan

Obrolan di Kepala

i.
sebotol minuman berisi teh manis yang seperempat paruhnya telah saya minum berdiri di samping laptop. teh ini lama-lama akan habis. semanis apa pun ia, lama-lama ia akan hilang dari pandang. atau mungkin bahkan dari ingatan.

ii.
hari ini, saya lagi-lagi tidak masuk kuliah. saya meringkuk dalam selimut di ruang tengah. ayah dan ibu berkali-kali membangunkan. saya enggan. badan serasa remuk setelah tiga hari siang malam berusaha membangun instalasi. saya pun akhirnya terbangun dan terbaring dan terbangun di siang hari. ayah sembari membuat roti coklat keju, memotong nangka, dan memberi segelas bervitamin bilang pada saya, “Bang, sudah di rumah saja. apa juga yang dikejar dari kesibukan Abang tuh? boleh sibuk kalau itu bikin Abang makin dekat dengan Allah. Kalau gak, kan akhirnya cuma dapat sakitnya.”

sore hari menjelang malam, saya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. saya sebelumnya sholat maghrib terlebih dahulu dan kemudian berangkat ke kampus; tidak untuk kuliah, tapi untuk rapat koordinasi. kembali lagi, melelahkan sebetulnya dan saya cukup gundah untuk hadir rapat. beban kerja satu divisi rasanya tidak sesuai. publikasi, dokumentasi, desain, dan artistik, semua dikerjakan dalam divisi ini. jujur, saya tak sanggup. tapi untung ketua bidang dan salah satu staff saya bisa membantu saya, baik secara langsung maupun secara moril untuk menjalani kesemuanya. saya bilang di awal rapat, “Tsil, jujur gua ngerasa anxious.” “anxious kenapa sih lo? makanya rajin baca Quran. sering baca gk lo?” “iya sih, lagi jarang.” “rajin sholat juga, Ya. rajin gk lo?” “eh iya iya rajin.”

malam hari, saya kembali ke sekretariat himpunan. saya kembali merasa gelisah. saya awalnya duduk di ruang tengah. namun setelah berkali-kali gagal untuk dapat membaca satu paragraf jurnal, saya pun berpindah ke mushola gedung. saya tak bisa tenang. saya merasa kesal. saya merasa takut. saya merasa banyak hal yang mengacaukan pikiran saya. saya teringat kawan saya pernah bilang (yang ia pun mengutip dari seseorang), “takut itu maya. bahaya itu nyata. yang penting itu bagaimana mengesampingkan rasa takut dan menghadapi bahaya.” saya pun teringat, “tidakkah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang?”

malam kian larut. setelah saya sebentar membaca Quran, saya bergegas menuruni tangga untuk mengambil wudhu. seseorang sedang duduk di bangku bambu. dia yang dulu saya biasa pulang padanya dan beristirahat. malam yang dahulu sering dan senang saya pandangi. namun sekarang, setiap saya melihat dia, saya merasa takut, cemas, kesal, dan cemburu. saya pun mempercepat langkah dan segera menghadap cermin sembari membasuh muka. saya kembali ke lantai atas dengan berhati-hati berharap alas kaki tak menimbulkan suara.

saya sholat. saya duduk. saya termenung. beragam kalimat pun muncul dalam benak.

iii.
kamu memaksa diri
untuk sibuk mengerjakan ini itu
yang kamu sendiri enggan.

kamu sibuk menyayangi seseorang
yang mungkin memang bukan untuk kamu.

Yahya, kalau tak berkeberatan coba jawab.
sebetulnya kamu sedang apa?
apa yang kamu cari?

harus lebih hati-hati dengan ucapan. sudah berkali-kali mengecewakan, membebani dan melukai perasaan orang lain hanya karena salah kata, berlebihan bercanda, bercerita yang tak mesti, dan mengiyakan perjanjian.

mungkin benar kalimat,

quluu qoulan syadiida, ufriglakum a’maalakum.

bibir pesisir

islam, himpunan, akademik, rencana kerja, keluarga, kepanitiaan, dan pribadi. banyak rasanya yang ingin diseimbangkan. saya ingin melengkapi bagian hidup yang tak lengkap; atau bagian hidup yang rusak dan perlu dipulihkan. saya tak merasa sedih, tapi juga tak bahagia. saya tak merasa pergi, tapi juga tak tinggal. perahu yang terdampar tidak dapat lagi mengandalkan layarnya yang rusak. navigasi pun tak menunjuk satu arah yang tetap. saya tidak kemana-mana. mata pun tidak memandang apa-apa. hidup seumpama daun kelapa di pesisir yang hanya berayun-ayun; antara disapu angin atau diaduk ombak.

biru

sering saya bertemu dengan keadaan dimana saya diminta menyebrangi laut, padahal untuk berenang pun saya tak biasa. mungkin menggunakan perahu bisa tetap membawa jauh. tapi saat yang lain berenang memeluk ombak dan menyelam melihat cantiknya karang dan warna warni ikan, saya duduk terpekur hanya bersama biru langit dan biru laut.

ini satu orang mabuk bicara ngelantur dan jalan beneran sempoyongan. emang ya, bodoh. kesel gua, gak sayang apa sama masa depan lu. mau jadi laki yang ngurus keluarga gimana kalau sama diri sendiri aja masih gak sayang lu. lu gak mau kan keluarga lu nanti kaya keluarga lu yang sekarang. bedebah. gua jadi temen lu juga biar lu gak tersesat jauh-jauh, dasar.

tadi dosen perencanaan partisipatif membawa putri kecilnya dalam kegiatan belajar mengajar. saya dan juga teman-teman lainnya merasa sedikit terhibur. anak satu ini kadang ikut bersuara di tengah ayahnya sedang mengajar. atau kalau tidak bicara, ia menunjuk-nunjuk barang di sekitarnya untuk dipegang-pegang. kadang juga ia meminta diturunkan dari gendongan hanya untuk merengek-rengek lagi untuk kembali digendong. terus saja si anak berlaku begitu. di penghujung kelas pun ia sempat mencorat-coret leher dan kemeja ayahnya dengan pulpen yang ia pegang. bukan satu coretan kecil, tapi sudah seperti buku gambar A3 yang digambar bebas oleh si anak. lucu saja; anaknya bandel, tapi ayahnya tetap mengajar.