Qalb.

ya Allah, engkaulah dzat yang hati saya ada dalam genggamanmu. ya Allah, engkau pula dzat yang maha mencintai dan berhak untuk dicinta. ya Allah, engkau pula dzat yang berhak membolak-balikan hati. saya ingin menitipkan hati ini padamu. maaf jika saya banyak meminta, tapi ya Allah jangan sampai saya mencintai selainmu kecuali engkau ridho, jangan sampai saya mencintai selainmu kecuali saya memang untuknya dan ia untuk saya, jangan sampai saya mencintai selainmu kecuali saya siap untuk menanggungnya. ya Allah semoga ke depan saya hanya mencintaimu; dan andaipun saya perlu mencintai selainmu, semoga itu pun atas dasar kecintaan saya padamu.

ya Allah, saya ini lemah. saya titipkan hati ini padamu. biarkan sementara ini saya kehilangannya selama saya masih bisa bersamamu.

sakit.

semalam saya baru menginap di ruang rumah sakit. kesan pertama saat itu sebetulnya agak serem juga, lorong panjang gelap dengan kadang ada suara langkah kaki dan derit roda. straight outta horror movie, saya pikir. tapi apalah toh hanya pikiran selintas.

jadi kawan saya ini kalau saya tak salah hitung adalah yang ke-5 yang kena DB. dan kalau saya tak salah lihat juga sepertinya yang paling parah. tangannya merah, bergetar, dan wajahnya pun terlihat redup. itu juga kenapa saya rasanya ingin ikut menginap menemani.

selain dari itu sebetulnya saya sendiri yang merasa butuh nasihat. saya datang dengan pertanyaan, “Jar, maneh kan udah dua hari di sini. Ada dapet renungan sesuatu gitu gak?” Dan dari situ mungkin kesan kedua yang muncul selama di rumah sakit. saya seharusnya bersyukur.

semalaman saya dengar suara batuk, suara muntah, suara pispot, dan suara lainnya yang mungkin gak perlu saya tulis di sini. semalam penuh saya dengar. saya gak nyaman mendengarnya dan itu justru berkali-kali mengingatkan saya untuk bersyukur. seberapa bermasalah pun saya sekarang, setidaknya saya tidak perlu di rumah sakit.

yang kedua yang kawan saya ini ceritakan sebetulnya mengingatkan saya lagi untuk lebih baik dalam memandang kata sakit. sakit, dalam konteks apa pun itu, sebetulnya menjaga kita. kita demam karena dalam diri ada yang perlu dihapus. panas api itu sakit agar kita berhati-hati. dan boleh jadi kita sakit pun karena ada yang gak sesuai yang perlu diberi obat. Ini juga yang saya dengar dari obrolan dengan Pak Tizar shubuh tadi.

Semalam tadi bagi saya pribadi mengingatkan saya buku Reclaim Your Heart yang ditulis Yasmin Mogahed. Saat vas berkali-kali jatuh dan pecah berhamburan, seharusnya kita lebih pintar untuk tidak menempatkannya di ujung meja. Ada tempat yang lebih baik untuk menaruhnya, setidaknya sampai suatu saat nanti.

terakhir, semoga semua yang sakit menemukan obatnya.

wa laa syifa’a illa syifa’uk

Telaga.

hujan turun malam itu. kami keluar untuk mencetak perangkat; dan sekalian mencari obat. dia sakit gigi, belakangan makin sering sakit. pipinya sedikit membengkak; begitu ia bilang sembari menggembungkan kedua pipinya. hmm okay, mungkin benar lebih baik diobati daripada hanya ditunggu sembuh. saya sedikit khawatir sebetulnya karena hujan-hujanan justru memancing sakit yang lainnya lagi. tapi gerimis sepertinya bukan masalah.

kami memutuskan untuk mencetak perangkat terlebih dahulu. kami menuju bangunan yang sepertinya salah satu tempat fotokopian terbesar di Madiun. dia yang mengatur ini dan itu dan saya hanya melihat dan menunggu. lama saya perhatikan, dia banyak mengingatkan saya pada ibu. entah bagaimana saya pun jadi rindu mendengar suara ibu.

saya keluar tempat fotokopian dan duduk menekuk lutut di ubin halaman. awalnya saya hanya diam menatap hujan yang tengah membasahi jalan. tapi kemudian saya pun membuka ponsel dan menelfon ibu. saya tidak cerita kalau saya lelah, atau sedih, atau kangen. saya hanya bertanya apa kabar ibu di rumah dan bagaimana sekolah adik-adik. saya bertanya dan menjawab sambil berusaha menahan suara tangisan saya agar tak masuk melintasi satelit dan sampai ke telinga ibu. susah, tapi saya masih bisa. saya pun menutup percakapan dengan meminta doa semoga saya kembali ke jalan yang benar dan dikuatkan selama perjalanan. ibu bilang tentu saja. setiap hari, abang ibu doakan. saya sempat diam sebentar menunggu sedih ikut luruh bersama hujan sampai akhirnya saya kembali ke dalam dan menjemput dia yang selesai mencetak perangkat. saya sengaja berbicara sembari banyak memalingkan muka. tak perlulah dia tahu. kami pun kemudian lanjut pergi untuk membeli obat.

di apotek, dia mencari obat. saya hanya berdiri di sampingnya; menunggu sambil memperhatikan seisi ruang. saya menemukan banyak papan dengan kalimat. salah satunya bilang obat terbaik adalah ketenangan pikiran. saya pun menunjuk dan bilang, “tuh, kayanya kita butuh itu.” saya sedang banyak pikiran. kemungkinan dia juga sama. kami mungkin dua orang yang tengah hanyut dalam sungainya masing-masing yang entah tak sengaja bertemu di satu muara.

“eh, kalau jalan sebentar gapapa gak?” tanya saya setelah membuka pintu ke luar. dia bilang tak masalah, dia juga senang bepergian tanpa arah. okey. kami pun kemudian menyusuri jalan di Madiun yang tak banyak dipayungi lampu kota. gelap. hujan. tapi saya tak terganggu. mungkin karena apa yang di kepala saya pun tak jauh berbeda. sambil menghabiskan cerita, kami melewati suatu jalan yang membelah lahan pertanian menjadi dua. di sana hanya ada jalan selebar dua mobil, lampu di kanan kiri, dan juga hijau pesawahan. saya bilang saya suka tempat ini. menurut papan di apotek, ini obat yang saya butuh. saya merasa tenang melaluinya. saya pun kembali menemukan tenang bersamanya.

kemudian kami kembali ke jalan besar yang melewati rel kereta. saya sedang berbicara saat itu. dan tanpa sempat sadar, ban kami terselip di antara rel kereta dan kami pun jatuh. tidak keras. tapi yang jelas, motor tergeletak dan kami terantuk badan jalan. setelah sebentar menepi ternyata kakinya luka lecet. tapi selain itu, sepertinya baik saja. saya hanya tertawa. duh, bisa-bisanya. dia bilang tak apa-apa jatuh selama bangkitnya sama-sama. saya senang mendengarnya. iya sih, benar juga. dan untuk melengkapi jatuhnya, ternyata perangkat yang telah dicetak jatuh dan rusak; terlalu kotor untuk dipakai esok hari. yah, saya bilang kayanya kita harus print lagi.

kami pun sampai di tempat fotokopian untuk kedua kali. dia kembali mengurus ini itu dan menunggu. saya bilang mending bersihin lukanya dulu. saya pun meminta pegawai fotokopian menunjuki kami letak kamar kecil. lukanya sih tak besar, sedikit lecet dan lebam di sisi kaki. tapi ya sudah, lebih baik dibersihkan juga agar tak infeksi. setelah dibersihkan, saya pun memberikan satu hansaplas dengan gambar baymax oleh-oleh ayah dari jepang. ayah saya bilanh kalau pakai ini pasti akan lebih cepat sembuh. saya sendiri tak percaya. tapi karena motifnya lucu, saya bilang yasudah kita percaya aja. dia pun tersenyum.

malam itu singkat. hanya sebentar membawa pulang obat dan perangkat. tapi buat saya, hari itu saya menemukan kembali diri saya. dia telah memanggil bagian diri saya yang sempat hilang mengejar layangan yang putus. saya senang saya kembali. semenjak hari itu pun rasanya saya tak mau dia perlu susah karena sakit.

[ . . . ]

bagian satu dari dua

malam sabtu.

saya pernah diajarkan katanya neraka adalah hal yang paling seram dan perih dari apapun yang mungkin pernah dicipta. saya juga pernah diajarkan bahwa kasih sayang Allah itu jauh lebih manis dan lebih tulus dari apapun atau siapapun yang bisa mencintai diri kita.

dua kalimat di atas yang mungkin telah menjagaku di malam sabtu kemarin dari hanya menangis tanpa tujuan. saya duduk di pekarangan masjid saat merasa di puncak lelah dan sedih dengan hanya ditemani gelap. saya takut, tapi kemudian saya ingatkan kembali bahwa neraka jauh lebih menakutkan dari apapun yang mungkin saya takutkan di bumi ini. saya pun merasa perih, tapi kembali lagi saya ingatkan diri bahwa neraka akan jauh lebih pedih dari apapun atau siapapun yang bisa melukai saya di bumi ini. saya pun merasa sendiri, tapi berulang-ulang saya kembali mengingatkan bahwa kasih sayang-Nya akan jauh lebih manis dan lebih tulus dari siapapun atau apapun yang bisa menenangkan dan melipur diri saya.

baru saja saya bertekad untuk berhati-hati dalam menjatuhkan hati. tapi tanpa sadar beberapa hari yang lalu, saya kembali lagi melakukannya dan hanya melukai orang lain dan akhirnya diri saya juga.

saya takut, khawatir, lelah, salah, dan sendiri. sulit rasanya menjalani cara hidup yang dulu guru-guru agamaku pernah ajari. saya masih percaya, saya tidak berhenti mengimani. saya hanya ingin sekali benar-benar bisa merasakan kasih sayang-Nya; agar saya tak perlu kesana kemari mencari-cari perasaan itu di dalam diri orang lain.

ya Allah. rodhitu billahi robba. wa bil islami diina. wa bi muhammadin nabiya wa rasula.

Saya ridho dengan-Mu, dengan islam, dengan Muhammad SAW. Saya ridho dengan takdir yang telah Kau buatkan untukku; entah itu tentang kampus, keluarga, dan atau apapun yang saya rasa. Saya ridho dengan gaya hidup islam yang tak jarang saya yang pemalas dan pengeluh ini seringkali permasalahkan. Saya ridho dengan jalan yang telah dan mesti saya lalui selama ini. Saya ridho dengan hujan yang sedari dulu rasanya tak berkesudahan. Saya ridho dengan diri saya yang telah Engkau ciptakan dengan lebih dan kurang yang seperti saya sekarang ini. Saya ridho, atau setidaknya saya tengah berusaha untuk itu.

ya Allah, saya minta maaf. tak pernah saya benar-benar ingin meninggalkan-Mu. semuanya saya lakukan hanya karena saya tak tahan terus merasa takut, lelah, dan kesepian. ya Allah, saya minta maaf.

Obrolan di Kepala

i.
sebotol minuman berisi teh manis yang seperempat paruhnya telah saya minum berdiri di samping laptop. teh ini lama-lama akan habis. semanis apa pun ia, lama-lama ia akan hilang dari pandang. atau mungkin bahkan dari ingatan.

ii.
hari ini, saya lagi-lagi tidak masuk kuliah. saya meringkuk dalam selimut di ruang tengah. ayah dan ibu berkali-kali membangunkan. saya enggan. badan serasa remuk setelah tiga hari siang malam berusaha membangun instalasi. saya pun akhirnya terbangun dan terbaring dan terbangun di siang hari. ayah sembari membuat roti coklat keju, memotong nangka, dan memberi segelas bervitamin bilang pada saya, “Bang, sudah di rumah saja. apa juga yang dikejar dari kesibukan Abang tuh? boleh sibuk kalau itu bikin Abang makin dekat dengan Allah. Kalau gak, kan akhirnya cuma dapat sakitnya.”

sore hari menjelang malam, saya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. saya sebelumnya sholat maghrib terlebih dahulu dan kemudian berangkat ke kampus; tidak untuk kuliah, tapi untuk rapat koordinasi. kembali lagi, melelahkan sebetulnya dan saya cukup gundah untuk hadir rapat. beban kerja satu divisi rasanya tidak sesuai. publikasi, dokumentasi, desain, dan artistik, semua dikerjakan dalam divisi ini. jujur, saya tak sanggup. tapi untung ketua bidang dan salah satu staff saya bisa membantu saya, baik secara langsung maupun secara moril untuk menjalani kesemuanya. saya bilang di awal rapat, “Tsil, jujur gua ngerasa anxious.” “anxious kenapa sih lo? makanya rajin baca Quran. sering baca gk lo?” “iya sih, lagi jarang.” “rajin sholat juga, Ya. rajin gk lo?” “eh iya iya rajin.”

malam hari, saya kembali ke sekretariat himpunan. saya kembali merasa gelisah. saya awalnya duduk di ruang tengah. namun setelah berkali-kali gagal untuk dapat membaca satu paragraf jurnal, saya pun berpindah ke mushola gedung. saya tak bisa tenang. saya merasa kesal. saya merasa takut. saya merasa banyak hal yang mengacaukan pikiran saya. saya teringat kawan saya pernah bilang (yang ia pun mengutip dari seseorang), “takut itu maya. bahaya itu nyata. yang penting itu bagaimana mengesampingkan rasa takut dan menghadapi bahaya.” saya pun teringat, “tidakkah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang?”

malam kian larut. setelah saya sebentar membaca Quran, saya bergegas menuruni tangga untuk mengambil wudhu. seseorang sedang duduk di bangku bambu. dia yang dulu saya biasa pulang padanya dan beristirahat. malam yang dahulu sering dan senang saya pandangi. namun sekarang, setiap saya melihat dia, saya merasa takut, cemas, kesal, dan cemburu. saya pun mempercepat langkah dan segera menghadap cermin sembari membasuh muka. saya kembali ke lantai atas dengan berhati-hati berharap alas kaki tak menimbulkan suara.

saya sholat. saya duduk. saya termenung. beragam kalimat pun muncul dalam benak.

iii.
kamu memaksa diri
untuk sibuk mengerjakan ini itu
yang kamu sendiri enggan.

kamu sibuk menyayangi seseorang
yang mungkin memang bukan untuk kamu.

Yahya, kalau tak berkeberatan coba jawab.
sebetulnya kamu sedang apa?
apa yang kamu cari?

harus lebih hati-hati dengan ucapan. sudah berkali-kali mengecewakan, membebani dan melukai perasaan orang lain hanya karena salah kata, berlebihan bercanda, bercerita yang tak mesti, dan mengiyakan perjanjian.

mungkin benar kalimat,

quluu qoulan sadiida, yuslihlakum a’maalakum.

bibir pesisir

islam, himpunan, akademik, rencana kerja, keluarga, kepanitiaan, dan pribadi. banyak rasanya yang ingin diseimbangkan. saya ingin melengkapi bagian hidup yang tak lengkap; atau bagian hidup yang rusak dan perlu dipulihkan. saya tak merasa sedih, tapi juga tak bahagia. saya tak merasa pergi, tapi juga tak tinggal. perahu yang terdampar tidak dapat lagi mengandalkan layarnya yang rusak. navigasi pun tak menunjuk satu arah yang tetap. saya tidak kemana-mana. mata pun tidak memandang apa-apa. hidup seumpama daun kelapa di pesisir yang hanya berayun-ayun; antara disapu angin atau diaduk ombak.

biru

sering saya bertemu dengan keadaan dimana saya diminta menyebrangi laut, padahal untuk berenang pun saya tak biasa. mungkin menggunakan perahu bisa tetap membawa jauh. tapi saat yang lain berenang memeluk ombak dan menyelam melihat cantiknya karang dan warna warni ikan, saya duduk terpekur hanya bersama biru langit dan biru laut.

tadi dosen perencanaan partisipatif membawa putri kecilnya dalam kegiatan belajar mengajar. saya dan juga teman-teman lainnya merasa sedikit terhibur. anak satu ini kadang ikut bersuara di tengah ayahnya sedang mengajar. atau kalau tidak bicara, ia menunjuk-nunjuk barang di sekitarnya untuk dipegang-pegang. kadang juga ia meminta diturunkan dari gendongan hanya untuk merengek-rengek lagi untuk kembali digendong. terus saja si anak berlaku begitu. di penghujung kelas pun ia sempat mencorat-coret leher dan kemeja ayahnya dengan pulpen yang ia pegang. bukan satu coretan kecil, tapi sudah seperti buku gambar A3 yang digambar bebas oleh si anak. lucu saja; anaknya bandel, tapi ayahnya tetap mengajar.